sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Sekjen MA Dicekal KPK

Sekjen MA Dicekal KPK



Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meminta Dirjen Imigrasi untuk mencekal Sekretaris Jenderal (Sekjen) Mahkamah Agung Nurhadi sejak Kamis(21/4/2016).

Sekjen MA Dicekal KPK

Selama enam bulan ke depan, Nurhadi tidak bisa keluar neger kerena dirinya terkait dalam kasus dugaan suap penanganan permohonan pendaftaran peninjauan kembali (PK) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan tersangka Panitera atau Sekretaris Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Edy Nasution dan pihak swasta Doddy Aryanto Supeno.

“Dicegah selama enam bulan, terhitung tanggal 21 April 2016. Berdasarkan Permintaan Pimpinan KPK,” kata Kabag Humas Dirjen Imigrasi Heru Santoso, Kamis (21/4/2016).

Penyidik KPK sendiri telah menggeledah rumah kediaman dan ruang kerja Nurhadi untuk mencari barang bukti pendukung.

Terkait kasus ini, KPK telah melakukan penggeledahan di empat tempat terpisah, yaitu di kantor PT Paramount Enterprise International di Gading Serpong, Boulevard Gading, Tangerang, kedua di Gedung Pengadilan Negeri Jakarta Pusat di Jalan Raya Bungur Besar, Jakarta Pusat, ketiga di ruang kerja Sekjen MA Nurhadi di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta Pusat; dan terakhir di kediaman Nurhadi di Jalan Hang Lekir, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Dari keempat tempat yang telah digeledah tersebut penyidik KPK menyita sejumlah dokumen dan uang yang belum bisa dipublikasikan kepada masyarakat.

Kasus ini bermula saat KPK melakukan operasi tangkap tangan terhadap Edy Nasution dan pihak Doddy Aryanto Supeno disebuah hotel di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (20/4/2016).

Saat operasi tersebut, KPK menyita uang sebesar Rp 50 juta yang diserahkan Doddy kepada Edy. Uang ini merupakan sebagian daro total uang Rp 500 juta yang dijanjikan Doddy kepada Edi. Sebelumnya, Edy telah menerima Rp 100 juta.
(Samsul Arifin)