Home » News » Munaslub Partai Golkar Menelan Biaya Hingga Rp 70 Miliar

Munaslub Partai Golkar Menelan Biaya Hingga Rp 70 Miliar



Jakarta – Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar, yang diadakan pada tanggal 17 Mei, sudah menjadi buah bibir terlebih dahulu sebelum acara ini dihelat.

Munaslub Partai Golkar Menelan Biaya Hingga Rp 70 Miliar

Bukan hanya sebatas memberitakan tentang perebutan tahta kursi ketua umum pada partai Golkar saja, melainkan acara Munaslub Golkar ini menuai kritik tentang anggaran yang cukup besar hingga mencapai Rp60-70 miliar.

Kabarnya politikus muda Partai Golkar, Andi Sinulingga sepakat bila calon ketua umum (Caketum) turut berkontribusi dalam pembiayaan Munaslub.

Hal ini disampaikan Andi, terkait keputusan panitia pengarah Munaslub bahwa kandidat ketua umum diwajibkan menyetor sejumlah dana untuk akomodasi peserta dan penyelenggaraan forum musyawarah tertinggi partainya itu.

“Kisarannya di angka Rp60-70 miliar. All in. More or less. Itu kalau kita hitung berdasarkan index kemarin (Munaslub sebelumnya),” kata Andi.

Andi mencoba memberikan gambaran tentang rincian biaya tersebut. Bila satu peserta Rp3 juta di Nusa Dua, Bali dikalikan 2.500 peserta dikali delapan hari. Itu di luar biaya lain-lain dalam persiapan Munaslub oleh panitia.

“Rencananya lima hari, dari mulai check in sampai dengan check out hotel,” ujar Andi.

Hanya saja masalah angka yang disumbang masing-masing calon, Andi kurang sepakat sampai Rp20 miliar per kandidat. Sebab, kader dan panitia juga harus punya andil. Makanya generasi muda partai beringin menggalang donasi.

“Panggung yang paling besar kan buat bakal calon, jadi wajar kalau mereka sumbang lebih besar. Masalah angka bisa disesuaikan kebutuhan,” tambahnya.

Perihal urunan yang dilakukan kader Partai Golkar, Pengamat Politik Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing mengungkapkan langkah tersebut tepat untuk dilakukan, karena anggapan Emrus sendiri hal tersebut merupakan upaya menghindari terjadinya politik uang.

“Saya rasa dengan cara melakukan sumbangan dari para kader, terutama caketum yang bersaing, merupakan salah satu hal yang baik dilakukan,” jelasnya.

Dikatakannya, budaya politik uang memberikan efek jangka panjang yang akan terulang secara otomatis. Selain itu juga, politikus yang menggunakan cara-cara politik uang, nantinya akan melakukan korupsi untuk mengembalikan modalnya ketika menjabat.

“Saya rasa, mereka (politikus yang melakukan politik uang) selalu menggunakan jabatannya untuk mendapatkan modalnya kembali ketika sebelum menjabat,” terangnya.

Lebih lanjut, Emrus memberikan gambaran tentang Calon Ketua Umum Golkar nantinya adalah Setya Novanto dan Ade Komarudin. Hal itu menurutnya sudah menjadi kemajuan bagi Partai Golkar.

“Ketika dua nama lainnya muncul selain ARB (Abrurizal bakrie) dan AL (Agung Laksono), hal tersebut merupakan kemajuan. Karena secara otomatis tidak ada lagi kubu ARB dan AL,” tukasnya.
(Freddy Julio – sisidunia.com)