sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Polisi Mendalami Kasus Dugaan Penipuan Yang Melibatkan Wanita Emas

Polisi Mendalami Kasus Dugaan Penipuan Yang Melibatkan Wanita Emas



Jakarta – Kabar terbaru kini terkait pemanggilan terhadap Mischa Hasnaeni Moein yang lebih dikenal sebagai “wanita emas” yang kini hendak mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI oleh pihak Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi Moechgiyarto hanya sebagai saksi.

Polisi Mendalami Kasus Dugaan Penipuan Yang Melibatkan Wanita Emas

“Ya dia kan dipanggil sebagai saksi. Kalau orang dipanggil sebagai saksi kan belum tentu akan langsung dijadikan sebagai tersangka,” kata Moechgiyarto selepas konferensi pers perkembangan Operasi Bersinar 2016 di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (13/04/2016).

Kapolda menerangkan untuk memenuhi unsur sebagai tersangka bagi Hasnaeni, harus ditemukan dahulu dua alat bukti yang memberatkan dan bisa membuktikan.

“Penetapan sebagai tersangka kan jika sudah memenuhi dua alat bukti yang sah itu, ya sepanjang belum ditemukan artinya belum bisa,” ujar Moechgiyarto.

Hasnaeni pun menilai terkait dengan pemanggilannya tersebut sarat akan unsur politis, pasalnya pelaporannya tersebut sudah sejak 2014 lalu.

“Ya bisa saja karena mungkin ditemukan novum (keadaan baru) pada saat ini, yang pada waktu itu dilakukan penyelidikan belum menemukan dan kita mencari dua alat bukti itu kan melalui proses nah kalau belum ditemukan dipending dulu begitu menemukan lagi kita buka kembali,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, pada akhir Mei 2014 lalu, korban selaku Direktur Utama PT Trikora Cipta Jaya dikenalkan oleh Arifin Abas (almarhum) kepada Hasnaeni. Saat itu, Antara korban dengan Hasnaeni telah membuat surat perjanjian kerja sama untuk pengurusan sanggahan banding tersebut.

Dalam prosesnya, saat itu Hasnaeni dan saksi meyakinkan korban akan memenangkan sanggahan banding itu lantaran punya kenalan orang dalam di Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU).

Korban sendiri telah memberikan sejumlah uang kepada Hasnaeni sekitar Rp900 juta, yang sebagian dibayarkan dengan cheque dan sebagian dibelikan iPhone sebanyak enam unit senilai Rp30 juta.

Namun, seiring berjalannya waktu, rupanya Kemen PU menyatakan bahwa sanggahan banding yang diajukan korban dianggap sebagai pengaduan. Sebab, sampai dengan batas akhir masa sanggah tidak menyampaikan jaminan sanggahan banding asli, sehingga sanggahan banding yang diajukan tidak sesuai dengan prosedur.

Dengan ditolaknya sanggahan banding itu, proses lelang pun terus berlanjut. Alhasil, tender proyek pembangunan dua ruas jalan itu pun jatuh ke tangan perusahaan lain.

Atas hal itu, korban merasa dirugikan. Lantas korban memutuskan untuk melapor ke Polda Metro Jaya pada November 2014 lalu, dengan tuduhan pasal 378 KUHP dan atau 372 KUHP tentang penipuan dan atau penggelapan, dikarenakan saat itu Hasnaeni tidak bisa dihubungi dan sulit ditemuinya.
(Freddy Julio – sisidunia.com)