sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » Hiburan » Awalnya Hobi, Pemuda Ini Raup Rp 38 Juta Dari Bisnis Scrapbook

Awalnya Hobi, Pemuda Ini Raup Rp 38 Juta Dari Bisnis Scrapbook



Jakarta – Pemutusan hubungan kerja (PHK) bukan satu-satunya alasan seseorang meninggalkan jalur karyawan, banyak sekali peluang kerja diluar tergantung bagaimana menyikapi perkembangan dunia bisnis yang menjanjikan.

Awalnya Hobi, Pemuda Ini Raup Rp 38 Juta Dari Bisnis Scrapbook

Termasuk juga Bayu Indrawan meninggalkan pekerjaannya dikarenakan ia merasa bosan dengan padatnya jadwal dan tidak ada sedikit luang waktu pada pekerjaan yang digelutinya selama 3 tahun di sebuah rumah produksi.

Bersama kakaknya, Indri Rusmayanti, Bayu kini menggeluti usaha scrapbook. Bayu bercerita, berawal dari keisengan menghias dan merangkai foto-foto menjadi sebuah cerita menggunakan kertas bekas, majalah, dan juga tissue, menjadikan scrapbook sebagai usahanya saat ini.

“Awalnya kakak iseng upload (kreasi scrapbook) yang saya buat. Kakak kan hobi foto, cuma enggak pernah dicetak, terus saya cetak, saya hias, kata dia (kakak) bagus, ” kata Bayu pada sisi dunia, Minggu (10/4).

Bayu pun mulai menawarkan hasil kreasinya kepada beberapa teman dan kerabat, akan tetapi dalam usahanya tersebut terdapat kendala dari segi kesukaan. Oleh sebab itu, dirinya bersama sang kakak membuka jalur pemasaran dan pemesanan secara online.

Jalur online sangat membantu perkembangan bisnis scrapbook yang digeluti Bayu. Pemesanan pun tidak hanya datang dari pelanggan yang ingin fotonya dihias atau dibuat alur cerita, tetapi juga dari restoran-restoran.

“Teman-teman minta dihiasin fotonya, bahkan sampai restoran-restoran juga akhirnya kita desain sedemikian rupa,” ujar Bayu.

Menjalani bisnis scrapbook, menurut Bayu, nyaris tanpa modal. Cukup mengandalkan kertas bekas atau tissue. Namun dibutuhkan kreativitas tinggi agar terus bisa bertahan meski ide-ide banyak yang mengikuti.

“Scrapbook kita enggak butuh modal, karena teman order, jadi ya sudah ini buat beli bahan sekian, bahannya apa, mau bagaimana ceritanya, entar saya yang ceritain, buat pengiriman sekian,” tutur Bayu.

Strategi awal, lanjut Bayu, pemesan diwajibkan membayar setengah dari harga pesanan untuk biaya membeli segala keperluan pesanan. Sisanya dibayarkan pelanggan setelah pesanan selesai dibuat.

“Bisa dibilang modalnya Rp 0, karena itu saya berkreasi, saya ciptakan apa yang mereka inginkan. Awalnya gitu, sampai akhirnya untuk modal sekarang bisa Rp 10-20an juta karena kita menciptakan dan menyediakan ke toko-toko yang lain,” imbuh Bayu.

Kini omzet Paperlope bisa mencapai Rp 38 juta, dari modal awalnya hanya Rp 0. Bayu menargetkan omzet mencapai Rp 50 juta dalam waktu dekat ini. “Bulan depan target Rp 50 juta. Real Rp 38 (juta) paling tinggi,” ucap Bayu.

Bayu pun berbagi tips bagi yang hendak menekuni bisnis di bidang srapbook.

“Berani rugi kalau memang mau mulai, sama yakin bisa dan inovasi. Saya kan biasanya nyiptain terus orang-orang ingin (punya), kita kan awalnya nawarin dulu, ada yang mau apa enggak, kalau enggak ada yang mau kan biasanya orang nyerah, enggak punya ide. Tantangannya, inovasi karena yang saya buat itu kreasi, ide. Muncul, terus ada ngikutin,” tutur Bayu.
(Freddy Julio – sisidunia.com)