sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Pengamat : “Antikorupsi Itu Bukan Iman Buat Parpol, Jualan Saja”

Pengamat : “Antikorupsi Itu Bukan Iman Buat Parpol, Jualan Saja”



Jakarta – Tertangkapnya kader Partai Gerindra M Sanusi oleh penyidik KPK seolah memberi hadiah cuma-cuma bagi Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Posisi Partai Gerindra, yang juga penantang utama Ahok akan makin memperburuk citra parpol sebagai sarang koruptor. Sekaligus menaikan posisi tawar calon perseorangan di mata masyarakat.

Pengamat : "Antikorupsi Itu Bukan Iman Buat Parpol, Jualan Saja"

“Dulu teriak antikorupsi, sekarang tertangkap dan partai masih saja teriak antikorupsi, ya kehilangan maknanya. Jualannya enggak laku. Hancurlah partai sebagai simbol itu. Ahok mau enggak mau namanya semakin melejit,” ujar Benny, Pakar Komunikasi Politik, di Jakarta, Jumat (1/4/2016).

Menurut Benny, kecenderungan korupsi di parpol tak lepas dari politik biaya tinggi yang mengharuskan hadirnya dana besar dalam pencalonan yang seringkali sumbernya tak bersih. Ia menyarankan adanya pengaturan pendanaan parpol yang lebih besar dengan sanksi lebih berat bagi parpol yang terbukti korupsi.

“Gerindra hancur seperti Demokrat hancur karena kasus Anas Urbaningrum (ketua umum) dan Muhammad Nazaruddin (bendahara umum). Gerindra akan jadi bulan-bulanan,” imbuh peneliti Para Syndicate itu.

Sedangkan, Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima) Ray Rangkuti menilai isu antikorupsi lebih ditempatkan parpol sebagai bahan jualan saat kampanye. Tak heran jika saat kader Gerindra kedapatan korupsi partainya bakal menghadapi jalan terjal di Pilgub DKI.

“Antikorupsi itu bukan iman buat parpol. Jualan saja. Levelnya di bibir saja. Tindakan di DKI bisa menyebar di medsos di menit yang sama. Yang bisa dilakukan parpol itu menyamakan apa yang di bibir dengan di tindakan. Tapi ini sudah telanjur memberi kerepotan bagi Gerindra,” papar Ray.

Diketahui, KPK resmi menetapkan Komisi D DPRD DKI Jakarta M. Sanusi (MSN), PT APL Ariesman Widjaja (AWJ) dan Karyawan PT APL Trinanda Prihantoro jadi tersangka KPK. Hal ini merupakan hasil operasi tangkap tangan KPK, Kamis 31 Maret 2016.

KPK mengamankan barang bukti uang sebesar Rp1,140 miliar yang merupakan pemberian kepada MSN. Politikus Gerindra ini diketahui telah menerima sekitar Rp2 miliar dalam dugaan suap ini namun uang itu sudah digunakannya hingga hanya bersisa Rp1,140 miliar.

Fulus itu terkait pembahasan rancangan peraturan daerah (raperda) tentang rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Provinsi DKI Jakarta 2015-2035. Selain itu terkait raperda tentang rencana kawasan tata ruang kawasan strategis pantai Jakarta Utara.

MSN pun dijadikan tersangka penerima suap. Dia disangkakan pasal 12 huruf a atau pasal 12 huruf b atau pasal 11 Undang-Undang 39 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah UU 20 Tahun 2001 jo pasal 64 ayat 1 KUHP.

Sementara, TPT dan AWJ jadi tersangka pemberi suap. Keduanya disangkakan pasal 5 ayat 1 huruf a atau pasal 5 ayat 1 b atau pasal 13 UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 jo pasal 55 ayat 1 ke-1 jo pasal 64 ayat 1 KUHP.
(Freddy Julio – sisidunia.com)