sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » Ekonomi & Bisnis » Ini Alasan Mengapa Warga Indonesia Lebih Memilih Beli Properti di Singapura

Ini Alasan Mengapa Warga Indonesia Lebih Memilih Beli Properti di Singapura



Jakarta – Para kaum berduit dari Tanah Air lebih memilih membeli properti di Singapura ketimbang di Indonesia. Padahal proyek properti di Indonesia juga tidak kalah menarik dan bagusnya. Mengapa demikian?

Ini Alasan Mengapa Warga Indonesia Lebih Memilih Beli Properti di Singapura

Di Jakarta sendiri, nama-nama seperti PT Ciputra Property Tbk dan PT Agung Sedayu tidak asing lagi bagi mereka yang tergolong end user, yang tidak tanggung-tanggung bila sedang membeli properti yang diinginkannya.

PT Ciputra Property Tbk misalnya, memiliki Raffles Residence senilai Rp 70,2 juta per meter persegi. Padahal apartemen di bilangan Jalan Satrio, Jakarta Selatan ini memiliki luasan 470 m2, sehingga harga satu unitnya mencapai Rp33 miliar.

Sedangkan Agung Sedayu memasarkan The Langham Residence di SCBD dengan sekitar Rp 80 juta – Rp 100juta per meter persegi.

Meskipun di Jakarta telah tersedia properti dengan fasilitas sangat lengkap, namun orang-orang super kaya dari Indonesia masih saja lebih melirik hunian di Singapura.

Menurut data, mereka lebih memilih Singapura karena para pembeli tersebut memiliki core bisnis di sana. Ada juga para orang tua yang mempunyai anak yang sedang bersekolah di Singapura. Tidak heran kalau pasar dari Indonesia masih menjadi andalan bagi penjualan properti di Negeri Merlion ini.

Menurut Head of Research Knight Frank for Asia Pacific, Nicholas Holt, pembeli dari Indonesia lebih tertarik salah satunya karena pajak pembelian yang dibebankan ke konsumen. Indonesia membebankan pajak pejualan properti mewah hingga 45%., dengan rincian PPN 10%, PPh 5%, PPnBM 20%, Pajak Sangat mewah 5% dan BPHTB sebesar 5%.

“Padahal di Malaysia, Singapura, Australia dan Ingris tidak membebankan pajak PPn dan PPnBM. Ketiga negara itu hanya memberlakukan pajak BPHTB sebesar 0-5% saja. Kecuali Singapura yang BPHTB nya 15%,” kata Nicholas Holt.

Selain itu, diminatinya proyek pengembang Singapura lantaran ada rasa aman atas produk yang dibeli, yaitu turut melindungi konsumen properti secara hukum.

Pemerintah Singapura memberlakukan sistem bank guarantee. Apabila konsumen membayar pada pengembang, kemudian developer tidak membangun properti sesuai klausul, uangnya akan dikembalikan. Hal seperti ini belum ada di Indonesia. Pemerintah Indonesia belum bisa menindak pengembang yang nakal karena belum ada hukum yang mengaturnya.
(Samsul Arifin-sisidunia.com)