Home » News » Panama Papers Ungkap Bisnis Riza Chalid

Panama Papers Ungkap Bisnis Riza Chalid



Jakarta – Pengusaha Indonesia M. Riza Chalid keberadaannya tiba-tiba menghilang setelah kasus “papa minta saham” yang juga menyeret nama mantan Ketua DPR Setya Novanto. Namun beberapa hari ini nama Riza Chalid kembali disebut-sebut setelah bocornya dokumern milik sebuah firma hukum di Panama, Mossack Fonseca , yang juga dikenal dengan nama Panama Papers.

Panama Papers Ungkap Bisnis Riza Chalid

Nama Riza Chalid muncul bersama 2 nama pengusaha minyak lain dari Indonesia, Johnny Gerard Plate dan Irawan Prakoso.

Menurut dokumen Panama Papers, Riza Chalid dan Johnny Gerard Plate mendirikan Gainsford Capital Ltd di British Virgin Islands pada tahun 2001. Sedangkan Irawan Prakoso mendirikan Twinn International Ltd pada 1 Juni 2007. Irawan juga diketahui menjabat sebagai Direktur Global Energy Resources, perusahaan milik Riza Chalid.

Gainsford Capital Ltd didirikan dengan modal US$ 50 ribu dalam bentuk 50 ribu lembar saham biasa. Pada 8 April 2008, mereka mengalihkan saham mereka kepada Nai Song Kiat, Direktur Veritaoil Pte Ltd.

Namun dua pekan sebelumnya, yaitu pada 24 Maret 2008 Riza Chalid dan Johnny Gerard Plate dicurigai terkait dengan Gold Manor International Ltd yang diduga bekerjasama dengan pejabat Pertamina dalam tender minyak mentah Zatapi yang diketahui harganya lebih mahal US$ 11,72 per barel.

Mabes Polri lantas menetapkan lima orang tersangka dari Pertamina dan Gold Manor. Namun dalam perkembangannya kasus ini lantas dihentikan karena menurut audit dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan tidak terdapat kerugian negara.

Lalu pada akhir Oktober 2015, dari hasil audit Korda Mentha terhadap Pertamina diketahui bahwa Veritaoil dan Global Energy terlibat persekongkolan dengan Pertamina Energy Services (PES), anak perusahaan Pertamina Energy Trading Limited (Petral).

Panama Papers sendiri merujuk kepada 11,5 juta dokumen sebuah firma hukum di Panama, Mossack Fonseca yang bocor. Dokumen tersebut kemudian diteliti oleh 370 jurnalis yang tergabung dalam The International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ.
(Samsul Arifin-sisidunia.com)