Home » News » Komisi I DPR RI Angkat Bicara Perihal Tebusan WNI Di Filiphina

Komisi I DPR RI Angkat Bicara Perihal Tebusan WNI Di Filiphina



Jakarta – Upaya negosiasi yang dilakukan pemerintah saat ini dirasa Effendi tak efektif dalam upaya pembebasan 10 WNI. Anggota Komisi I DPR itu pun meminta kepada pemerintah untuk mengerahkan personel TNI untuk menyelamatkan 10 WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina.

Komisi I DPR RI Angkat Bicara Perihal Tebusan WNI Di Filiphina

“Prihatin saya kalau pemerintah baik presiden, menteri, semua pihak mengedepankan cara-cara bernegoisasi dan menerima pembayaran dengan menebus, menerima tuntutan, mengiyakan tebusan dari separatis atau pihak perompak,” ungkap Effendi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (6/4/2016).

Menurut Effendi, seharusnya Indonesia bisa menunjukkan kekuatannya dalam mengatasi perompak. Ia pun yakin, dengan kemampuan pertahanan yang dimiliki, pemerintah mampu segera menyelamatkan ABK.

“Harus kedepankan kedaulatan bangsa kita. Pasti itu bisa, jangan pemerintah kita berpikir, ‘nanti akan menggangu stabilitas kekuasaan saya, akan menggangu rating pencitraan saya’. Apakah itu yang dimaksud dengan negara dan pemerintah hadir? Kita harus tunjukkan posisi tawar dan power,” jelas Effendi.

Effendi mengatakan seharusnya Indonesia menunjukkan mampu mempertahankan kedaulatan negara. Jika hanya membebaskan sandera dari perompak, ia yakin prajurit TNI mampu menjalankan tugas dengan baik.

“Malah kok pemerintah beri tiga opsi di luar kelaziman sebagai negara berdaulat. Dulu ketika Woyla, dengan kemampuan diplomasi ternyata bisa. Alhamdulillah berhasil. Tapi kedaulatan kita teruji. Kalau serahkan tebusan, nggak perlu dong ada negara dan TNI,” tuturnya.

Penyandera sebelumnya memberikan batas waktu 2 hari lagi untuk memberikan uang tebusan yang diminta. Kelompok Abu Sayyaf meminta tebusan 50 juta peso atau Rp 15 miliar untuk 10 sandera. Tim pasukan khusus pun sudah disiagakan di Tarakan, Kalimantan Utara, untuk sewaktu-waktu menjemput sandera jika upaya negoisasi berhasil.

“TNI-TNI kita mempunyai kemampuan, jangan TNI hanya untuk menjemput. Bayangkan nanti TNI hanya menjemput di perbatasan lalu membawa pulang, kalau tugas pejemputan PMI saja dan relawan cukup,” ujar Effendi.

“Ini namanya negara kita bernegosiasi dengan teroris. Saya kira dengan kemampuan Komando kita, kita mampu. Berikan kita akses untuk mengambil para WNI baik dari TN AD, AU, dan AL. Mereka mampu, itu sekaligus menaikkan moralitas bangsa kita, yang sekarang sudah semakin terseok-seok tidak ada lagi kebanggaan kita lagi,” lanjut politisi PDIP itu.

Pemerintah sebenarnya sudah menyatakan tidak akan membayar tebusan yang diminta kelompok garis keras Abu Sayyaf. Menlu Retno Marsudi pun sudah berkunjung ke Filipina melakukan pertemuan dengan otoritas berwenang setempat

Sebelumnya Presiden Joko Widodo menegaskan, pemerintah masih terus berupaya membebaskan para sandera yang merupakan awak kapal tug boat Brahma 12 yang menarik kapal tongkang Anand 12.

“Masih komunikasi terus, saya ikuti terus. Ada hal yang tidak bisa saya umumkan,” terang Jokowi, Rabu (6/4).
(Freddy Julio – sisidunia.com)