sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » 900 Karyawan Chevron Terancam Dipecat Akibat Merosotnya Harga Minyak

900 Karyawan Chevron Terancam Dipecat Akibat Merosotnya Harga Minyak



Jakarta – Berita mengenai sekitar 900 orang karyawan PT Chevron Pacific Indonesia bakal menjalani Pemutusan Hubungan Kerja atau PHK, dibenarkan oleh Konfederasi Serikat Buruh Muslim Indonesia (Sarbumusi) di Provinsi Riau. Diketahui Chevron sebelumnya sudah memulangkan 740 lebih pekerja.

900 Karyawan Chevron Terancam Dipecat Akibat Merosotnya Harga Minyak

“Ada sekitar 900 orang lagi. Chevron bercerita pada kita, perusahaan itu tetap tawarkan pensiun dini sampai akhir April tahun ini,” papar Ketua Sarbumusi Basis Chevron Pacific Indonesia Riau, Nofel di Pekanbaru, Selasa (5/4).

Dia melanjutkan, perusahaan multinasional sektor minyak dan gas bumi (migas) berasal dari Amerika Serikat itu dalam organisasi baru hanya terdapat 4.880 orang karyawan dari 6.500 orang sebelumnya yang tersebar di Provinsi Riau, Sumatera maupun Kalimantan.

Tapi pada 31 Maret 2016, Sarbumusi mengklaim 740 orang lebih karyawan terdiri dari sekitar 200 orang di Riau dan 500 orang lebih di Kalimantan telah menjalani PHK akibat tidak masuk dalam organisasi perusahaan baru dan melemahnya harga minyak dunia.

“Jadi dalam organisasi baru, terdapat sekitar 900 pekerja lagi yang bakal dikurangi karena total dikurangi 1.600 orang karyawan,” ucapnya.

Nofel menilai, Chevron selalu bermain dalam menawarkan program pensiun dini atau PHK terhadap karyawan karena belum pernah diumumkan secara luas.

“Kalau sama kita (Sarbumusi), dia (Chevron) bilang jika tak ada lagi yang ambil program pensiun dini, maka akan dimasukan dalam organisasi perusahaan. Tidak ada yang non job atau lain sebagainya. Itu jawaban sama kita,” ucap dia.

“Tapi kalau dia terapkan sama serikat pekerja yang lain atau tidak punya serikat, kita tak tahu. Karena informasi pensiun dini, kan secara personal diberikan Chevron,” terang Nofel.

Senior Vice President, Policy, Government, and Public Affairs Chevron Indonesia, Yanto Sianipar sebelumnya mengatakan, perusahaan migas saat ini melakukan kajian terhadap semua model bisnis dan operasi.

“Latar belakangnya bukan hanya karena harga minyak yang rendah, melainkan sejak tahun lalu kami sudah melakukan tinjauan terhadap bisnis dan operasi di lapangan,” katanya.

Catatan sejarah menyebutkan, Chevron sudah beroperasi di Tanah Air sebelum Indonesia merdeka atau tepatnya sejak tahun 1924 di Sumatera dengan nama N.V. Nederlandsche Pacific Petroleum Maatschappij (NPPM).

Tahun 1944 ahli geologi bersama tim lain menemukan sumur minyak terbesar di Asia Tenggara di Minas, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Minas terkenal dengan jenis minyak sumatera “light crude” yang sangat baik dan memiliki kadar belerang rendah.

Para karyawan Chevron sejak dulu ditempatkan pada 4 kota di Provinsi Riau yaitu Dumai, Duri, Minas dan Rumbai. Chevron milik Amerika Serikat tersebut merupakan perusahaan minyak kontraktor terbesar di Indonesia dengan produksi sudah mencapai dua miliar barrel.
(Freddy Julio – sisidunia.com)