sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » Gaya Hidup » Penelitian Tawa Sebagai Penghilang Rasa Nyeri Pada Tubuh

Penelitian Tawa Sebagai Penghilang Rasa Nyeri Pada Tubuh



Jakarta – Tertawa bersama teman memang menyenangkan, dan terkadang tawa juga jadi simbol kebahagiaan. Menilik dari segi ilmiah, ternyata tertawa dapat menghilangkan sakit, dan hal tersebut terbukti terjadi di banyak sekali orang.

Penelitian Tawa Sebagai Penghilang Rasa Nyeri Pada Tubuh

Dilansir sisi dunia dari Live Science, ketika tertawa, tubuh kita merilis senyawa di otak, senyawa tersebut adalah hormon endorfin. Hormon tersebut adalah hormon yang dapat membuat perasaan kita menjadi lebih baik, dan juga dapat meringankan sakit.

“Masih sedikit penelitian yang dilakukan tentang mengapa kita bisa tertawa dan apa pengaruhnya dalam masyarakat,” ungkap Robin Dunbar, seorang peneliti dari Oxford. “Kami berpikir bahwa itu adalah efek endorfin, di mana tawa bisa jadi hal yang sangat penting bagi kehidupan sosial di masyarakat,” imbuhnya.

Sebelumnya, Dunbar dan tim tidak berpikir bahwa tawa bisa mengaktifkan endorfin, yang mana endorfin adalah senyawa kimia yang bertugas menghilangkan rasa sakit. Biasanya, senyawa endorfin akan ‘rilis’ di otak, ketika kita sedang berolahraga, sedang bergembira, sedang sakit, sedang makan makanan pedas, serta sedang melakukan hubungan seksual.

Endorfin juga punya andil yang cukup besar dalam penghilang rasa sakit. Menurut peneliti, mengalirnya senyawa endorfin di otak, mampu meningkatkan kemampuan kita dalam menghiraukan rasa sakit. Dari hipotesis ini, para peneliti ingin menemukan apakah tawa dapat melepas endorfin, sehingga tawa dapat menghalau rasa sakit.

Peneliti pun menguji cobakan untuk mencari ambang batas tingkat ketahanan mereka terhadap sakit seberapa, lalu mengujinya lagi dengan tawa, lalu menguji kembali tingkatan rasa sakitnya, pada beberapa partisipan.

Uji coba tersebut meliputi partisipan yang dipertontonkan serial komedi, di antaranya “Mr. Bean” dan sitkom “Friends.” Serta mereka diajak untuk menonton langsung event comedy Edinburgh Fringe Festival.

Dari uji coba rasa sakit dan tawa, kemampuan peserta untuk toleransi rasa sakit menjadi tinggi setelah tertawa. Dalam angka rata-rata, setelah menonton 15 menit sebuah pertunjukan komedi, ambang batas toleransi rasa sakit naik hingga 10 persen.

Uji coba rasa sakit yang dilakukan kepada partisipan, dilakukan dengan membungkus tangan partisipan ke sebuah alat pendingin wine, serta ke alat tensimeter. Alat tersebut tak akan dilepas hingga merekap tak mampu lagi, dan datanya dicatat.

Dari hal ini, peneliti mendapatkan kesimpulan. Memang tawa awalnya tak dapat merilis endorfin, namun ketika sedang tertawa, seseorang mengeluarkan banyak napas dan energi, yang menyebabkan otot perut menjadi lelah. Karena hal inilah endorfin rilis. Mengingat endorfin biasanya rilis karena kegiatan fisik seperti berolahraga.
(Freddy Julio – sisidunia.com)