sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » Hiburan » Anaknya Disebut Otak Pengeboman Di Sarinah, Ibu Bahrun Naim Sakit

Anaknya Disebut Otak Pengeboman Di Sarinah, Ibu Bahrun Naim Sakit



Jakarta – Bahrun Naim diduga terlibat dengan bom Sarinah. Pemuda asli Solo, Jateng, yang sedang berjihad di Suriah itu diduga sebagai sebagai otak serangan bom dan baku tembak di Sarinah. Banyak dampak yang ditimbulkan. Misalnya, keluarga besarnya di Solo disorot publik.

Anaknya Disebut Otak Pengeboman Di Sarinah, Ibu Bahrun Naim Sakit

Sebagaimana diberitakan BBC pada Selasa (19/1//2016), adik kandung Bahrun Naim, Dahlan Zaim, menceritakan kejadian tersebut. Dahlan menjelaskan, kini ibunya sakit. Banyak wartawan mencari tahu informasi keluarga tersebut secara lebih dekat.

Bukan hanya informasi. Selasa (19/1/2016), keluarga besar Bahrun Naim yang diwakili menyelenggarakan jumpa pers. Dia berharap sang kakak menyampaikan pernyataannya atas bom Sarinah kepada publik. Namun, apakah itu akan dipenuhi?

Selain itu, usaha merevisi UU Terorisme sejak empat tahun lalu mendapat banyak pertentangan. Kini upaya tersebut seakan masuk dalam momentum baru karena serangan teror di Sarinah, Jakarta. Namun, potensi kebebasan sipil harus menjadi perhatian. Hal tersebut diungkapkan para aktivis.

Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak kekerasan (Kontras) Harris Azhar mengkhawatirkan histeria karena serangan teror di Jakarta yang menghilangkan delapan nyawa. Termasuk empat pelaku.

Menurut Haris, upaya tersebut direncanakan sejak empat tahun silam. Namun, pemerintah kerap memakai teror (misalnya, di Sarinah) sebagai sarana untuk merevisi UU Terorisme. ”Ini lagu lama,” katanya.

Para aktivis HAM mengungkapkan, jika gagasan revisi UU itu dilakukan, kebebasan sipil dan berpendapat bakal terancam. Selain itu, hal tersebut dapat digunakan untuk menghilangkan kalangan yang tidak sepaham dengan pemerintah.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo menjelaskan, revisi tersebut sedang dibicarakan. Tujuannya, apakah UU itu cukup kuat dan efektif dalam mencegah serta memberantas terorisme.

Sebelumnya, Kapolri Badrodin Haiti mengungkapkan, langkah pencegahan teror kerap terkendala karena tidak memiliki dasar hukum. ”Dalam bertindak, polisi terikat dengan ketentuan. Yakni, yang bersangkutan harus melakukan pidana,” katanya kepada awak media.

Padahal, pihaknya kerap mendapati orang-orang yang berpotensi menyebarkan teror. Namun, pihak yang berwajib tidak dapat bertindak. ”Sebab, tidak ada pelanggaran hukum,” tambahnya. (Freddy Julio – sisidunia.com)