sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Perusakan Gereja di Indonesia Paling Sering Terjadi dalam Waktu 9 Tahun Terakhir

Perusakan Gereja di Indonesia Paling Sering Terjadi dalam Waktu 9 Tahun Terakhir



Jakarta – Sekitar 2.498 pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan terjadi di Indonesia. Di antaranya, kekerasan atas nama agama. Kasus tersebut belum memiliki kerangka besar penyelesaian selama sembilan tahun.

Perusakan Gereja di Indonesia Paling Sering Terjadi dalam Waktu 9 Tahun Terakhir

ilustrasi

Setara Institute pun merilis Laporan Kebebasan/Berkeyakinan di Indonesia pada Senin (18/1/2016). Laporan tersebut berisi tentang data kekerasan tersebut.

Selain itu, lembaga tersebut mengungkapkan bahwa kasus kekerasan agama yang salah satu faktornya dipicu intoleransi dapat menimbulkan terorisme. Itu adalah bentukan paling akhir.

Peneliti Setara Institute Halili mengungkapkan, ada 2.498 pelanggaran dalam sembilan tahun terakhir. Tercatat 17 kali peristiwa atau enam kasus yang melanggar kebebasan beragama dan berkeyakinan per minggu.

Pada 2015, ada beberapa kasus yang terjadi dengan jumlah tinggi dari aktor non-negara. Perinciannya, 33 kasus intoleran, 22 penyesatan, 19 penyebaran kebencian, 23 perusakan, dan 10 penutupan ibadah. Dari aktor negara, 31 kasus keyakinan, 9 kriminalisasi keyakinan, 9 diskriminasi, 6 perobohan tempat ibadah, dan 6 pernyataan provokatif pejabat.

Menurut Halili, terorisme berawal dari intoleransi. Itu adalah puncaknya. ”Jika intoleransi dibiarkan, kita sebenarnya sama dengan memupuk bibit-bibit terorisme,” katanya kepada media Selasa (19/1/2016).

Dia menuturkan, selama sembilan tahun, ada 346 tempat ibadah mengalami gangguan. Yakni, 22 tempat ibadah aliran kepercayaan, 180 gereja, 3 klenteng, 121 masjid aliran minoritas, 1 sinagog, 5 pura, dan 14 vihara.

Selain itu, ada aktor yang berperan besar dalam melakukan pelanggaran kebebasan beragama. Mereka adalah pemerintah daerah (33 tindakan), kepolisian (16 tindakan), dan satpol PP (15 tindakan). (Freddy Julio – sisidunia.com)