sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » Gaya Hidup » Jika Teliti, Anda Bisa Menemukan Foto Tanpa Busana Disini

Jika Teliti, Anda Bisa Menemukan Foto Tanpa Busana Disini



Jakarta – Seni memang bisa diekspresikan dengan banyak cara. Melalui musik, tari, lukis, atau gabungan dari seluruhnya, bisa digunakan untuk mengekspresikan jiwa artistik di dalam diri seseorang.

Satu bentuk kesenian yang belakangan ini banyak berkembang adalah bodypainting, yang merupakan satu jenis kesenian lukis yang menggunakan media tubuh manusia sebagai kanvasnya.

Seorang pelukis bodypainting bernama Johannes Stotter belum lama ini banyak dibicarakan di media sosial dan internet karena karyanya yang menggabungkan seni lukis tubuh, koreografi, dan fotografi. Ia menciptakan sebuah ilusi foto binatang yang sejatinya terbentuk dari beberapa wanita yang tubuhnya telah lebih dulu dilukis.

Dari penelusuran Sisi Dunia (Selasa, 22/12/2015), pada satu foto, Stotter menampilkan hewan bunglon. Hewan ini terbentuk dari dua perempuan yang sedang “bertumpuk satu dan lainnya, dengan posisi kepala dan kaki yang saling berlawanan.
Jika Teliti, Anda Bisa Menemukan Foto Tanpa Busana Disini
Foto berikutnya, Stotter menampilkan burung kakaktua merah yang sebenarnya terbentuk dari seorang perempuan yang sedang duduk berpose.
Jika Teliti, Anda Bisa Menemukan Foto Tanpa Busana Disini
Di foto lain, Stotter mencoba hal yang lebih ekstrim lagi. Lima orang perempuan dilukis dan berpose sedemikian rupa sehingga membentuk hewan katak.
Jika Teliti, Anda Bisa Menemukan Foto Tanpa Busana Disini
Adapun untuk menghasilkan ilusi fotografi tersebut, Johannes Stotter memerlukan waktu yang tidak sebentar. Ia harus benar-benar memperhatikan detail hewan yang akan ditampilkannya dengan disesuaikan oleh perspektif pandangan mata. Sebagai gambaran, dibutuhkan waktu sekitar lima jam untuk menyelesaikan karya katak yang dibentuk dari lima orang perempuan tersebut. (Deni Suroyo – sisidunia.com)