sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » Travel & Kuliner » Yesus Digambarkan Mirip Raja Jawa Oleh Gereja Ganjuran

Yesus Digambarkan Mirip Raja Jawa Oleh Gereja Ganjuran



Bantul – Jika anda mengunjungi gereja Hati Kudus Yesus yang berada di Ganjuran, Bantul, Jogjakarta, anda akan menjumpai sosok Yesus yang berbeda dengan gereja-gereja pada umumnya.

Yesus Digambarkan Mirip Raja Jawa Oleh Gereja Ganjuran

Dalam keseharian orang akrab dengan penggambaran Yesus dengan tumbuh tinggi, kulit putih, pakaian jubah hingga perwajahan disesuaikan dengan kultur dan karakter yang lekat dengan zaman ketika Yesus hidup.

Namun hal tersebut tidak akan dijumpai di gereja Hati Kudus Yesus. Bukan saja bangunan gerejanya yang berarsitektur candi atau pendopo, tapi sosok Yesus di gereja tersebut juga ditampilkan dalam bentuk kebudayaan Jawa bercampur dengan Hindu.

Yesus Digambarkan Mirip Raja Jawa Oleh Gereja Ganjuran

Di ruang utama gereja tersebut, tampak patung Yesus sedang duduk di kursi dengan mengenakan pakaian dan aksesoris laiknya penggambaran dewa pada zaman kerajaan Hindu di Jawa. Dengan aksesoris yang digunakan seperti itu, dipastikan orang yang melihat ‘pangling’ jika patung tersebut adalah Yesus.

Pada bagian bawah patung Yesus telah diberikan keterangan nama Yesus dalam versi Jawa, yaitu Sang Maha Prabu Jesus Kristus Pangeraning Para Bangsa.

Tidak hanya patung Yesus, patung Bunda Maria beserta Malaikat juga digambarkan dalam versi kebudayaan campuran Jawa dan Hindu. Di ruangan yang sama terlihat patung Bunda Maria sedang memangku Yesus saat kecil.

Pastor Gereja, Romo Yohanes Krismanto menyebutkan bahwa patung Yesus tersebut merupakan perwujudan dari inkulturasi agama Katolik dengan kebudayaan Jawa.

“Dulu ini dibuat bersamaan dengan kompleks gereja di sini. Penggagasanya adalah Joseph Smutzer dan Julius Smutzer, orang Belanda yang pada waktu itu mempunyai pabrik gula di sini. Kedua orang ini konsen dengan kebudayaan lokal. Lalu dibangunlah kompleks gereja yang disesuaikan dengan kebudayaan setempat. Tujuannya agar masyarakat beragama tapi tidak meninggalkan kebudayaannya,” terangnya saat diwawancarai di Pastori Gereja Ganjuran, Sabtu (19/12/2015).
(Arman – sisidunia.com)