Home » News » Driver Gojek Ungkap Kekesalannya Pada Menteri Jonan Terkait Pelarangan Ojek Online

Driver Gojek Ungkap Kekesalannya Pada Menteri Jonan Terkait Pelarangan Ojek Online



Jakarta – Pelarangan operasi ojek dan taksis berbasis dalam jaringan atau daring (online) berbuntut panjang. Selain mendapatkan kecaman dari berbagai lapisan masyarakat, driver dari salah satu perusahaan ojek online, Go-Jek, juga menunjukkan kekesalannya.

Driver Gojek Ungkap Kekesalannya Pada Menteri Jonan Terkait Pelarangan Ojek Online

Ahmad (46), merupakan salah satu driver dari Go-Jek. Ia mengaku heran dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh Kemenhub. Ahmad mempertanyakan perihal waktu pelarangannya yang baru dilakukan sekarang di saat Go-Jek mencapai popularitasnya.

“Kalau mau melarang seharusnya dari dulu waktu masih tumbuh, bukan sudah banyak begini. (Ini) salah menterinya,” kata Ahmad kepada awak media di kawasan Kemang, Jakarta Selatan (Jumat, 18/12/2015).

Ahmand menambahkan, driver yang bekerja untuk Go-Jek di Jabodetabek saat sudah mencapai angka 150.000 orang. Ia pun mempertanyakan bagaimana nasib para rekannya tersebut bila kebijakan larangan itu diterapkan.

“Bisa banyak yang protes, sedangkan pemerintah bisa enggak nyediain lapangan pekerjaan?” tanya Ahmad.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Djoko Sasono dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (17/12/2015), mengatakan pelarangan tersebut tertuang dalam Surat Pemberitahuan Nomor UM.3012/1/21/Phb/2015. Adapun surat tersebut ditandatangani oleh Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, tertanggal 9 November 2015.

“Sehubungan dengan maraknya kendaraan bermotor bukan angkutan umum dengan menggunakan aplikasi internet untuk mengangkut orang dan/atau barang, perlu diambil langkah bahwa pengoperasiannya dilarang,” katanya. (Yayan – sisidunia.com)