sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Untuk Tatap Muka dengan Obama, Jokowi Dikabarkan Harus Membayar 80 Ribu Dolar AS

Untuk Tatap Muka dengan Obama, Jokowi Dikabarkan Harus Membayar 80 Ribu Dolar AS



Jakarta – Pertemuan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama yang baru-baru ini terjadi ternyata menyisakan polemik. Muncul sebuah kabar yang mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia harus meminta tolong kepada sebuah konsultan Singapura untuk melobi agar Presiden Jokowi bisa masuk ke dalam Gedung Putih, Washington, AS.
Untuk Tatap Muka dengan Obama, Jokowi Dikabarkan Harus Membayar 80 Ribu Dolar AS
Seorang jurnalis senior bernama Benjamin Bland, mengungkapkan melalui Twitter-nya bahwa konsultan PR Singapura telah mengeluarkan dana sebesar USD 80 ribu untuk membayar perusahaan PR lainnya asal Las Vegas untuk melobi agar delegasi Indonesia bisa bertemu Presiden Obama di Washington.

Singkat kata, Pemerintah Indonesia diisukan harus mengeluarkan dana sekitar USD 80 ribu bahkan lebih untuk menyewa jasa perusahaan PR Singapura, yang kemudian meminta tolong kepada perusahaan PR lainnya di Las Vegas, AS, untuk mewujudkan pertemuan bilateral antara Presiden Jokowi dan Presiden Obama.

Seperti dilansir dari New Mandala (Jumat, 6/11/2015), perusahaan PR asal Las Vegas tersebut bernama R&R Patners. Perusahaan ini bahkan dilaporkan harus melakukan presentasi kepada kantor kepresidenan AS, untuk membuktikan bahwa delegasi Indonesia layak untuk ditemui. Mereka menginformasikan bagaimana keunggulan-keunggulan Indonesia dan pentingnya pihak AS untuk menjaga hubungan dengan Indonesia, salah satunya ditunjukkan dengan memberikan fasilitas dan pengamanan nomor wahid untuk Presiden Jokowi.

Adapun kebenaran berita ini masih belum terkonfirmasi. Pihak Istana Negara juga belum bereaksi apapun menanggapi isu ini. (Deni SUroyo – sisidunia.com)