sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Warga Garut Bunuh Macan Tutul Langka yang Keluar dari Habitatnya

Warga Garut Bunuh Macan Tutul Langka yang Keluar dari Habitatnya



Garut – Belum lama ini, dikabarkan bahwa seekor macan tutul langka telah dibunuh oleh warga di Cikelet, Garut, Jawa Barat. Jasad hewan langka yang keluar dari habitatnya itu kini dikuasai oleh seorang tokoh masyarakat di desa tersebut.
Warga Garut Bunuh Macan Tutul Langka yang Keluar dari Habitatnya
Informasi mengenai pembunuhan macan langka ini diutarakan oleh aktivis Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK31), Dedi Kurniawan, pada Selasa (3/11/2015) kemarin. Menurut Dedi, macan tersebut terpaksa turun dari hutan suaka margasatwa karena habitat aslinya semakin lama semakin menyempit.

“Kami dapat informasi macan tutul muda itu ditangkap warga di Cikelet Jumat (30/10) kemarin. Kondisi macan sekarang sudah mati,” papar Dedi.

Dedi mengatakan bahwa masalah ini sudah ditangani oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat. Namun demikian, belum diketahui sejauh mana progres penyelesaian masalah ini.

“Macan ini hewan langka dan habitatnya terganggu. Semestinya ada penyadaran ke warga di kawasan sekitar hutan agar tidak membunuh hewan seperti ini,” keluh Dedi.


Baca juga

Prof Tjipta Lesmana Adukan Kebegoan Ahok kepada MenPAN-RB

Tarif dan Sistem Pembayaran Berubah, Ribuan Pengendara Gojek Mogok Massal

Menurut Dedi, pemerintah harusnya memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa peran macan sangatlah krusial bagi ekosistem hutan. Apalagi, jumlah populasi macan tutul yang dibunuh itu sudah sangat sedikit. Mereka pun menjadi korban dari kegiatan perambahan hutan yang dilakukan oleh manusia tidak bertanggungjawab.

“Pemerintah harus memberikan pemahaman kesadaran kepada warga sekitar hutan pentingnya macan tutul dalam ekositem. Kemudian mengurangi perambahan hutan dan meningkatkan sarana prasarana hutan produksi agar warga juga tidak merambah hutan,” sambungnya. (Deni Suroyo – sisidunia.com)