sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » Gaya Hidup » Karena Tak Sowan ke Ulama, Jenderal Sumitro Sindir Jenderal Moerdani sebagai Panglima Katolik

Karena Tak Sowan ke Ulama, Jenderal Sumitro Sindir Jenderal Moerdani sebagai Panglima Katolik



Jakarta – Presiden Joko Widodo telah mencanangkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Berbicara tentang santri, sejatinya hubungan antara santri dengan TNI telah berjalan sejak lama. Bahkan, telah menjadi sebuah budaya tersendiri bahwa pimpinan TNI kerap berkunjung ke pesantren untuk bertemu dengan kiai yang dianggap paling tersohor di suatu daerah.
Karena Tak Sowan ke Ulama, Jenderal Sumitro Sindir Jenderal Moerdani sebagai Panglima Katolik
Ada sebuah kisah yang cukup menarik tentang hubungan antara TNi dan pesantren. Dikisahkan, Jenderal Sumitro pernah memarahi juniornya, Jenderal Benny Moerdani, karena tidak “sowan” ke ulama. Saat itu, Jenderal Benni telah menjabat sebagai Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI, kini berubah menjadi TNI, red).

Kala itu, Benny sedang mengadakan kunjungan ke Jawa Timur (Jatim), untuk meninjau latihan militer di sana. Sudah jauh-jauh datang ke Jatim, Benny tidak mengunjungi Kiai As’ad, yang merupakan ulama tersohor di wilayah Asem Bagus.

Ditegur oleh Jenderal Sumitro, Benny pun menjawab, “Saya bukan Muslim.”

Jenderal Sumitro pun melanjutkan tegurannya, “Ben, kau Panglima ABRI bukan Panglima Katolik.”

Kisah ini dicantumkan oleh wartawan senior Salim Said dalam bukunya, “Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian”, yang telah terbit pada tahun 2013 lalu.

Enath karena teguran Jenderal Sumitro, atau dari pemikiran diri sendiri, Jenderal Benny pun mulai sering blusukan ke pesantren. Hasilnya, ia pun dekat dengan sejumlah kiai terkenal.

Dari kisah ini, bisa disimpulkan bahwa sebenarnya, hubungan antara TNI dan pesantren itu cukup krusial dalam memelihara stabilitas dan keamanan nasional. (Deni Suroyo – sisidunia.com)