sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » Gaya Hidup » Mengungkap Mitos Kekuatan dan Daya Magis Batu Ruby

Mengungkap Mitos Kekuatan dan Daya Magis Batu Ruby



Jakarta – Batu mulia merupakan batu alam yang memiliki nilai estetika tinggi, yang bila diolah dengan baik, bisa menjadi sebuah benda dengan nilai ekonomis yang tinggi pula.
Mengungkap Mitos Kekuatan dan Daya Magis Batu Ruby
Selain memiliki nilai estetika dan ekonomi, batu mulia juga dipercaya memiliki kekuatan dan daya magis tertentu yang bisa mempengaruhi keadaan jasmani maupun rohani dari orang yang mengenakannya. Oleh karena itu, para penggemar batu kerap kali mengoleksi batu mulia karena alasan khasiat dan karakteristik tertentu dari batu tersebut, yang dianggap mampu meningkatkan kesejahteraan, peruntungan, bahkan ekonomi mereka.


Baca juga

Mitos Kekuatan dan Khasiat yang Terkandung di Dalam Batu Topaz

Hanya Dengan Make Up, Payudara Bisa Jadi Lebih Besar

Salah satu batu mulia yang banyak digemari adalah batu ruby. Batu mulia yang juga biasa disebut dengan nama “merah delima” merupakan salah satu jenis mineral korundrum (aluminium oksida) yang memiliki warna merah darah hingga merah muda. Warna ini terbentuk dari kandungan kromium yang berada di dalamnya.
Mengungkap Mitos Kekuatan dan Daya Magis Batu Ruby
Berdasarkan kepercayaan dari para penikmat batu, ruby dikatakan mampu membuka hati pemakainya terhadap rasa cinta, serta menghilangkan pikiran negatif seperti takut dianggap jelek atau takut tidak dicintai. Batu ini juga dianggap bisa mengurangi ketidakberuntungan seseorang.

Ruby juga dikatakan mampu melindungi diri dari perilaku sensitif dan menyimpang, bahkan juga bisa menangkal kelainan mental seperti schizophrenia.

Anggapan di masa lalu, ruby merupakan sebuah lambang kasih, yang bisa merujukkan atau mendamaikan sepasang kekasih yang sedang cek-cok atau bertengkar. (Deni Suroyo – sisidunia.com)