sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Dokter Kecantikan Gadungan JS Belajar Dari Google

Dokter Kecantikan Gadungan JS Belajar Dari Google



Jakarta – Dokter Kecantikan JS yang tertangkap tangan kemaren ternyata hanya lulusan SMA dan dia belajar soal ilmu kedokteran dan kecantikan dari info-info medis yang dia baca di internet.

Dokter Kecantikan Gadungan JS Belajar Dari Google

“Dia hanya lulusan SMA. Dia lihat dari Google cara-cara praktiknya. Alat-alat medisnya dia beli di salah satu tempat di Jakarta. Untuk pengencangan bagian tubuh, modusnya mengambil lemak dari paha lalu disuntikkan. Obat-obat yang dipakai juga tidak sesuai standar,” kata Kapolres Jakarta Selatan Komisaris Besar Wahyu Hadiningrat, seperti dikutip dari kompas.com, Selasa (19/5/2015).

JS membuat resep palsu dari racikan obat yang dia buat sendiri. JS juga mencetak kertas resep sendiri dengan nama dokter di atasnya yang tentu saja juga palsu dan tidak terdaftar.

Seperti diketahui, pihak kepolisian dari Polres Jakarta Selatan melakukan tangkap tangan terhadap JS (37) saat sedang menangani salah satu pasiennya di toilet lantai 3 Plaza Semanggi, Jakarta pada hari Senin (18/5/2015).

Dalam kesehariannya JS mengaku sebagai dokter ahli bedah kecantikan yang melayani berbagai macam masalah yang berhubungan dengan kecantikan. Seperti memperbesar payudara, pemasangan benang di wajah, memperbesar kelamin, mengencangkan vagina, hingga membesarkan bokong.

Karena tidak mempunyai ijin praktek dan tempat praktek, dokter gadungan yang mengaku telah beroperasi selama tiga tahun ini biasanya mendekati pasien lewat SMS atau telepon, dan melakukan aksinya di toilet mall, di pinggir jalan, atau mendatangi rumah pasien.

Atas perbuatannya ini JS diancam dengan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Praktik Kedokteran serta Pasal 378 KUHP tentang Penipuan dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. (Dwi Kristyowati – sisidunia.com)