Home » News » Kemendikbud Didesak Segera Usut Dugaan Korupsi Pengadaan Buku Kurikulum 2013

Kemendikbud Didesak Segera Usut Dugaan Korupsi Pengadaan Buku Kurikulum 2013



Jakarta โ€“ Indonesia Corruption Watch (ICW) menjadi pihak yang pertama kali membuka dugaan korupsi di dalam Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terkait proyek pengadaan buku Kurikulum 2013. Dugaan korupsi tersebut mencuat setelah beberapa pihak menduga bahwa salah satu alasan di balik keputusan pemerintah menunda pelaksanaan Kurikulum 2013 ialah karena ada dugaan korupsi yang terjadi.

Kemendikbud Didesak Segera Usut Dugaan Korupsi Pengadaan Buku Kurikulum 2013

Berdasarkan pantauan tim SisiDunia (Minggu, 21/12/2014), ICW sendiri menemukan ada bentuk penyelewengan berupa penggelembungan harga dalam pengadaan buku atau modul bagi pelatihan guru pengawas untuk Kurikulum 2013. Biaya produksi modul tersebut ternyata lebih rendah dari nilai yang tercantum dalam kontrak.

Hal tersebut diungkapkan oleh Febri Hendri selaku Koordinator Divisi Monitoring Publik ICW, salah satunya ialah temuan di Malang dimana nilai kontrak sebesar Rp. 983 juta dengan potensi kerugian negara sebesar Rp. 786 juta. Karena jumlah temuan dugaan korupsi yang tak mencapai Rp. 1 miliar, maka ICW tidak langsung melaporkannya ke KPK, namun hal tersebut dilaporkan ke pihak Kemendikbud untuk ditindaklanjuti.

Febri melanjutkan bahwa modus korupsi yang ditemukan ICW ialah berupa penggelembungan harga yang dilakukan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Bidang Otomotif di Malang selaku pihak yang menyediakan sejumlah 22.221 modul untuk pelatihan guru di Provinsi Jawa Timur, Kalimantan Tengah dan Gorontalo.

Dari rangkaian investigasi ditemukan bahwa ternyata untuk membuat satu unit modul tersebut seharusnya hanya rata-rata Rp. 10.500, namun dalam kontrak lelang nilainya melambung hingga Rp. 40.000 bahkan Rp. 60.000.

Laporan temuan dugaan korupsi itu telah dilayangkan ICW ke Kemendikbud dan telah diterima Inspektur Jendral Haryono Umara pada Selasa (16/12) lalu. Pihak ICW pun berharap agar Kemendikbud segera mengusut tuntas hal tersebut, karena modus serupa juga sangat mungkin terjadi di tempat selain Malang. (Rindi Ayunda – sisidunia.com)