Home » Gaya Hidup » Kumpulan Puisi Peringatan Hari Pahlawan, Refleksi 10 November

Kumpulan Puisi Peringatan Hari Pahlawan, Refleksi 10 November



Jakarta – Tak ada kata menyerah dan semua dikorbankan untuk kepentingan bangsa. Mungkin itulah yang tergambar dalam perjuangan arek-arek Suroboyo ketika kotanya dibombardir oleh tentara sekutu.

Hanya dengan berbekalkan senjata rampasan dari tentara Jepang dan bambu runcing, arek-arek Suroboyo menunjukkan bahwa kotanya tidak terkalahkan walau dibombardir oleh tentara sekutu dari laut dan udara.

Memperingati Hari Pahlawan yang selalu jatuh pada tanggal 10 November, berikut adalah puisi-puisi indah karya anak bangsa dalam mengenang jasa dan pengorbanan para pahlawan yang telah gugur untuk mempertahankan kemerdekaan.

Puisi Hari Pahlawan ini berisi sebuah makna dan pesan dari seorang penyair untuk pendengarnya dengan bentuk karangan yang terikat oleh rima, ritma, ataupun jumlah baris serta ditandai oleh bahasa yang padat.

Adapun semua ini bertujuan satu yakni menumbuhkan rasa semangat nasionalisme di dalam masing-masing warga Indonesia untuk menjaga dan mengisi kemerdekaan dengan sebaik-baiknya.

Berikut adalah puisi peringatan hari pahlawan yang dilansir dari beberapa sumber, Minggu (09/11/2014) :

PAHLAWAN TAK DIKENAL
Oleh: Toto Sudarto Bachtiar

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda
Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda

SEBUAH JAKET BERLUMUR DARAH
Oleh: Taufiq Ismail

Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah berbagi duka yang agung
Dalam kepedihan berahun-tahun

Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja
Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan ‘Selamat tinggal perjuangan’
Berikrar setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?
Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang
Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
LANJUTKAN PERJUANGAN

Di Balik Seruan Pahlawan
Oleh : Zshara Aurora

Kabut…
Dalam kenangan pergolakan pertiwi
Mendung…
Bertandakah hujan deras
Membanjiri rasa yang haus kemerdekaan
Dia yang semua yang ada menunggu keputusan Sakral

Serbu…
Merdeka atau mati Allahu Akbar
Titahmu terdengar kian merasuk dalam jiwa
Dalam serbuan bambu runcing menyatu
Engkau teruskan Menyebut Ayat-ayat suci
Engkau teriakkan semangat juang demi negri
Engkau relakan terkasih menahan tepaan belati
Untuk ibu pertiwi

Kini kau lihat…
Merah hitam tanah kelahiranmu
Pertumpahan darah para penjajah keji
Gemelutmu tak kunjung sia
Lindunganya selalu di hatimu
Untuk kemerdekaan Indonesia Abadi

Insiden Bendera

Aku sudah selesai menghitung pintu-pintu hotel yamato
(orang jepang menyebutnya hoteru yamato)
akan kujelaskan mengapa surabaya 19 september 1945 meledak
rakyat larut dalam kegembiraan atas kemerdekaan
tentara-tentara belanda memperkeruh dengan mengibarkan simbol ketamakannya

Sayap-sayap malaikat berdesir mengajak ribuan rakyat surabaya
bertempur dengan 20 tentara belanda
yang menaikkan bendera belanda di hoteru yamato
resimen soedirman memeperingatkan
“hei, meneer, turunkan itu bendera negeri
yang tak kukenal”
tentara londo kebo itu tak menggubris
membiarkan bendera aneh itu berkibar tak tahu diri

Sembilan belas tentara belanda itu terperosok ke mentalitas comberan
seorang bernama mr.prolegman
mati ditusuk pemuda surabaya
seorang pemuda dengan gagah berani
memanjat tiang bendera
merobek warna biru yang melecehkan bangsa indonesia
merah putih berkibar di langit yang bening
pekik “merdeka”
menggema ke seluruh kota surabaya!

Bambu Runcing

Mengapa kau bawa padaku
Moncong bayonet dan sangkur terhunus
Padahal aku hanya ingin merdeka
Dan membiarkan nyiur-nyiur derita
Musnah di tepian langit

Karena kau memaksaku
Bertahan atau mati
Dengan mengirim ratusan bom
Yang kau ledakkan di kepalaku
Terpaksa aku membela diri
Pesawat militermu jatuh
Ditusuk bambu runcing
Dan semangat perbudakanmu runtuh
Kandas di batu-batu cadas
Kota surabaya yang panas!

DI KAKI PATUNG PAHLAWAN

Masih terlihat wajah gigih sang patriot
berdiri tegar di persimpangan penjuru negeri
tak berdaya…
melihat ibu pertiwi susah
perjuangan para pahlawan dengan amunisi
Perjuangan seluruh rakyat tak takut mati
dan pada 10 November di tahun kelabu
penjajah lari dari Indonesia ku
Di kaki patung pahlawan
Pada mereka kami mengadu

(Dwi Kristyowati – sisidunia.com)