Home » Ekonomi & Bisnis » Harga Minyak Dunia Mendekati Level Terendah Sejak 2011

Harga Minyak Dunia Mendekati Level Terendah Sejak 2011



New York – Harga minyak mentah dunia kembali jatuh setelah negara Arab Saudi sebagai produsen terbesar Organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) memangkas harga jual minyaknya ke pasar Amerika Serikat. Para analis melihat langkah Arab Saudi sebagai upaya untuk mempertahankan pangsa pasarnya di Amerika Utara terhadap membanjirnya minyak yang lebih murah dari ladang-ladng sepih AS. Arab Saudi kini lebih berkonsentrasi pada mempertahankan pangsa pasar di Amerika Serikat, yang bisa menimbulkan masalah khususnya untuk Kanada, Meksiko dan Venezuela (sebagai negara pemasok minyak terkemuka lainnya di AS) dan produsen minyak serpih AS. Langkah yang dilakukan oleh Arab Saudi menyebabkan tekanan pada harga minyak, pada perdagangan di New York telah turun lebih dari 20 % sejak juni.

Harga Minyak Dunia: Mendekati Level Terendah Sejak 2011

Patokan minyak mentah jenis light Sweet atau West Texas Intermediate (WTi) pada pengiriman Desember turun US$1,59 menjadi US$ 77,19 perbarel di New York Mercantile Exchange, Rabu (5/11/2014) pagi hari WIB. Sementara patokan Eropa, minyak mentah jenis Brent North Sea untuk pengiriman Desember turun US$ 1,96 menjadi US$ 82,82 per barel. Saudi Arabian Oil Co, sebagai produsen minyak milik negara, memotong harga minyak mentah yang diekspor ke Amerika Seriakt. Pedagang menganggap ini sebagai cara untuk mempertahankan pangsa pasar. Survei pasar menunjukkan bahwa produksi minyak mentah dari OPEC tumbuh sebesar 53.000 barel menjadi 30,974 juta berel per hari. Produksi OPEC menyumbang sekitar 40% dari pasokan minyak dunia. OPEC dijadwalkan mengadakan pertemuan di Wina Austria untuk membahas pagu produksi minyak mereka.

Sementara itu, persedian minyak mentah AS meningkat di tengah meningkatnya produksi dari formasi serpih. Persedian minyak mentah naik menjadi 397,7 juta barel . Di sisi ekonomi, pesanan baru AS untuk barang-barang manufaktur pada September mengalami penurunan 0,6 persen lebih buruk dari yang diperkirakan, pada sebuah laporan yang dikeluarka oleh Departemen Perdagangan AS. (fauji nur – sisidunia.com)