Home » News » Logo Baru Yogya: Dirasa Kurang Mewakili Jogja, Banyak Kritikan Dari Netizen

Logo Baru Yogya: Dirasa Kurang Mewakili Jogja, Banyak Kritikan Dari Netizen



Yogyakarta – Pemerintah daerah Yogyakarta telah merilis logo baru. Hal banyak mendapat kritikan dari masyarakat yang ada di Yogyakarta, selain itu logo tersebut dirasa belum mencerminkan rasa yogyakarta. Selain itu tanggapan juga datang dari DPRD DIY Yogyakarta meminta Pemda mengkaji ulang penggunaan brand dan logo baru yang sedang dipersiapkan oleh pemerintah daerah tersebut. Wakil ketua DPRD Arif Noor Hartanto menyatakan adanya polemik yang mengemuka pasca pengenalan loga dan brand baru DIY yang diperlihatkan secara terbuka pada acara Urun Rembug di Atrium Ambarukmo Plaza, Yogyakarta.

Logo Baru Yogya: Dirasa Kurang Mewakili Jogja, Banyak Kritikan Dari Netizen

Dewan mengusulkan kepada pemda DIY agar menggelar sayembara terbuka untuk membuat brnad baru yang mencirikan jati di DIY yang terletak pada kebudayaan. JOgja yang memiliki banyak praktisi kebudayaan, seniman, pemikir, serta kreator-kreator kreatif diharapkan dapat diikutsertakan membantu menciptakan brand kuat bagi DIY. Selama ini DIY telah menggunakan branding Jogja Never Ending Asia dengan logo tulisan Jogja berwarna hijau, ketika diperkenalkan pada 15 tahun lalu masyarakat menyambut logo tersebut dengan bersuka ria dengan menggunakannya dalam berbagai jenis tulisan.

Sementara itu upaya pemerintah DIY untuk mengganti logo menuai kritikan dari para netizen. Dikutip dari berbagai sumber Kamis (30/10/2014), Logo dengan tulisan Jogja yang baru diperkenalkan menurut sejumlah Netizen tidak jelas karena jika dibaca secara sekilas justru terbaca Togua. Huruf J pada awal lebih mirip sperti huruf T sementara huruf J kedua lebih mirip huruf U sehingga apabila dibaca menjadi Togua. misalnya yang ditulis oleh akun @hericz mengatakan “katanya Kla akan re-reuni kembali, menyanyikan lagu Nikmati bersama, suasana TOGUA”. Sementara salah satu designer logo di Yogya Azka Maula menilai dalam pembuatan lgo seharusnya memperhatikan karakter dan ciri khas dari produk yang akan di branding. (fauji nur – sisidunia.com)