Home » Hiburan » Kumpulan Puisi Inspirasi Tentang Lingkungan Dan Alam Indonesia

Kumpulan Puisi Inspirasi Tentang Lingkungan Dan Alam Indonesia



Jakarta – Indonesia adalah negara yang dianugrahi oleh Tuhan dengan keindahan alam yang menakjubkan. Potensi alam yang luar biasa indah itulah yang menginspirasi banyak orang untuk membuat sebuah puisi bertemakan alam dan lingkungan Indonesia.
Kumpulan Puisi Inspirasi Tentang Lingkungan Dan Alam Indonesia
Tanah yang subur, keindahan pegunungan dan pantai, masyarakat dengan ribuan kebudayaan adalah sebagian contoh kecil dari apa yang dimiliki oleh Indonesia.

Kekaguman akan alam yang dituangkan dalam bentuk sebuah puisi ini semakin membawa diri kita untuk bersyukur telah dilahirkan di bumi pertiwi. Nusantara yang terhampar dari Sabang sampai Merauke.

Jika anda ingin mengekspresikan kekayaan alam Indonesia, berikut beberapa kumpulan puisi yang telah telah tercipta yang mampu mewakili rasa kagum tersebut.

Silahkan untuk menjadikan puisi ini sebagai status di media sosial yang anda miliki, atau bagikan kepada teman dan sahabat dengan harapan kebanggaan tersebut lebih bisa dirasakan oleh banyak orang.

Berikut adalah kumpulan puisi inspirasi tentang alam dan lingkungan yang dilansir dari beberapa sumber, Rabu (15/10/2014) :

Desa Yang Indah

Kau adalah tempat yang indah
Jauh dari keramaian kota
Yang penuh dengan debu
Kendaraan bermotor
Tempatmu yang penuh pepohonan
Membuat tempatmu selalu damai
Jauh dari bencana
Yang selalu melanda
Kau adalah desa yang indah
Penuh perbukitan dan pepohonan
Kau membuat manusia sanggup
Hidup di tempatmu

INDAHNYA ALAM NEGERI INI
Puisi Ronny Maharianto

Kicauan burung terdengar merdu
Menandakan adanya hari baru
Indahnya alam ini membuatku terpaku
Seperti dunia hanya untuk diriku

Kupejamkan mataku sejenak
Kurentangkan tanganku sejenak
Sejuk , tenang , senang kurasakan
Membuatku seperti melayang kegirangan

Wahai pencipta alam
Kekagumanku sulit untuk kupendam
Dari siang hingga malam
Pesonanya tak pernah padam

Desiran angin yang berirama di pegunungan
Tumbuhan yang menari-nari di pegunungan
Begitu indah rasanya
Bak indahnya taman di surga

Keindahan alam terasa sempurna
Membuat semua orang terpana
Membuat semua orang terkesima
Tetapi, kita harus menjaganya
Agar keindahannya takkan pernah sirna

Alam Di Lembah Semesta
Oleh Akbar Sanjaya

Angin dingin kelam berderik
Kabut putih menghapus mentari
Tegak cahayanya menusuk citra

Pahatan gunung memecah langit
Berselimut awan beralas Zamrud
Tinggi dan tajam

Sejak waktu tidak beranjak
Di sanalah sanubari berdetak
Sunyi sepi tak beriak

Cermin ilusi di atas danau
Menikung pohon yang melambai warna
Di selah Kaki-kki yang mengejek Karya-karyanya

Di manakah aku berada?
Di mana jiwa tak mengingat rumah
Di saat hidup terasa sempurna

Sungguh jelita permadani ini
Terbarkan pesona di atas cakrawala
Tak berujung di pandang lamanya
Serasa berulang di negri tak bertuan

BENCANA MELANDAKU
Puisi Tanpa Nama

Lewat suara gemuruh diiringi debu bangunan yang runtuh
Tempatku nan asri terlindas habis
Rumah dan harta benda serta nyawa manusia lenyap
Kau lalap habis aku kehilangan segalanya

Mata manusia sedunia terpengarah, menatap dan heran
Memang kejadian begitu dahsyat
Bantuan dan pertolongan mengalir
Hati manusia punya nurani

Tuhan , mengapa semua ini terjadi ?
Mungkin kami telah banyak mengingkari-Mu
Mungkin kamu terlalu bangga dengan salah dan dosa
Ya, Tuhan ampunilah kami dalam segalanya

KEMANA PERGINYA ALAM LESTARI

Karya: Jay Limandjaya
Dulu sering ku lihat hamparan hijau sawah beratapkan langit biru

Kiri kanan sawah, tengahnya sungai

Di antara gunung matahari terbit malu-malu

Namun sekarang kemana?

Lapisan tanah becek berwarna coklat setiap habis hujan

Kini tanahku berwarna abu

Lama kucari tanah becekku

Tapi kenapa sekarang tak nampak?

Cemara kehidupan tinggi menjulang

Menjadi rumah bagi banyak hewan buatan Tuhan

Sekarang cemaranya tidak berwarna hijau dan teduh

Tetap tinggi tapi banyak jendela, banyak lampu

Mengapa bisa begitu?

Sering banjir, sering longsor

Di barat ada asap bikin marah tetangga

Padahal dahulu tidak begitu

Ibu pertiwi cuma tersedu tapi tidak malu

Sayang sekali ibu pertiwi kini tidak hanya sedih

Menanggung pilu sambil tertatih

Anak-anaknya nakal semua

Biar dimarahi tapi tak pernah jera

SAJAK MATAHARI Karya : W.S. Rendra
Matahari bangkit dari sanubariku.Menyentuh permukaan samodra raya.Matahari keluar dari mulutku,menjadi pelangi di cakrawala.
Wajahmu keluar dari jidatku,wahai kamu, wanita miskin !kakimu terbenam di dalam lumpur.Kamu harapkan beras seperempat gantang,dan di tengah sawah tuan tanah menanammu !
Satu juta lelaki gundulkeluar dari hutan belantara,tubuh mereka terbalut lumpurdan kepala mereka berkilatanmemantulkan cahaya matahari.Mata mereka menyalatubuh mereka menjadi baradan mereka membakar dunia.
Matahari adalah cakra jinggayang dilepas tangan Sang Krishna.Ia menjadi rahmat dan kutukanmu,ya, umat manusia !
Yogya, 5 Maret 1976

Puisi Pantai – Panca Empri

kubiarkan ombak mengusap
kedua kakiku seperti menari-nari
dalam buaian keriaan kalbumu
kupandang jauh
jauh di ufuk kebiruan berpadu
yang menyatukan langit dan laut
namun waktupun sekejap berlalu
beranjak dari pesona
dengan hamparan pasir putihmu
debur ombak yang berdebar
dan keceriaan anak-anak tertawa
tersenyum serta lesung pipimu
bak guratan pasir jemari-jemari lentik
yang sesekali gelombang menyapanya
waktu yang tak pernah kembali
berjalan bahkan berlari
ijinkanlah kutemui
bukan sekedar untaian mimpi
kan kubasuh kakiku di pantaimu

Gunung Yang Telah Lama Gersang

Aku dulu dilahirkan dalam alam yang permai
Dibuai dalam lindungan alam yang indah
Yang selalu mengingatkan aku pada belaian pertiwi
Selalu bersenandung rindu dalam dekapan alam

Semua kini telah dalam pandangan
Entah ke mana dan menjadi apa alam yang ku kenang dulu
Bagai ditelan dalam rakusnya manusia jahanam
Yang tiada belas kasihan dalam hidupnya

Selalu terasa pedih di hati ini
Tersayat sembilu dalam jiwa-jiwa yang kerdil
Terluka dan terobek sampai ke dalam sanubari
Tiada berbekas akan sakitnya hati

Kemana kan kucari lagi
Indahnya alam yang telah melahirkanku
Kemana aku mengadu untuk kembalinya alam permaiku
Semua telah gersang tanpa kendali dan manusia tinggal menuai bencana

Kutunggu manusia-manusia baru untuk berkarya
Tiada akal yang bisa menggapai
Entah kapan akan kembali
Gunung dan lembah yang kembali bersemi lagi

(Dwi Kristyowati – sisidunia.com)