Home » News » Inilah Puisi Aktivis 98 Yang Ditujukan Untuk Amien Rais

Inilah Puisi Aktivis 98 Yang Ditujukan Untuk Amien Rais



Jakarta – Amien Rais dikenal sebagai salah seorang tokoh reformasi saat 16 tahun yang lalu bersama dengan seluruh mahasiswa dan bangsa Indonesia menggulingkan orde baru.
Inilah Puisi Aktivis 98 Yang Ditujukan Untuk Amien Rais
Namun, saat partai Demokrat memutuskan untuk walkout yang menyebabkan Pilkada langsung tergeser lagi oleh Pilkada tidak langsung, mantan Ketua MPR ini meluapkan kegembiraannya dengan sujud syukur.

Melihat hal tersebut, Fahmy Habsyi yang merupakan Aktivis 98 yang juga Direktur Eksekutif Pusaka Trisakti tergerak untuk menciptakan sebuah puisi yang ditujukan untuk Amien Rais.

Saat ditemui oleh wartawan, Minggu (28/09/2014), Fahmi mengungkapkan bahwa sajak yang dibuatnya tersebut dipersembahkan untuk rakyat yang terus melawan dan mempertahankan hak suaranya. Fahmi juga menujukan puisi itu untuk tokoh yang meluapkan kebahagiaannya saat Pilkada tidak langsung mampu menggeser Pilkada langsung dengan cara sujud syukur.

Rasa kaget yang dialami oleh Fahmi ini berdasar karena tokoh yang dimaksud juga ikut sujud syukur ketika berhasil bersama seluruh para pejuang mengambil kembali hak-hak politik rakyat dari rezim otoriter 16 tahun yang lalu.

Berikut adalah isi puisi Fahmy Habsyi

Sujud Syukur di Atas Kuburan

Hari itu semua terpana ada upacara sujud syukur

Saat remaja mati terbunuh di tangan orang tua

Haknya diikat; Kepalanya dibenamkan

Ya… Reformasi yang aku, kau, kita perjuangkan

Naikkan derajat kalian jadi pembesar

Yang dia lahir kau pun ragu rayakan di lapangan Ikada (untung kau pengecut)

Karena takut terbunuh pula

Di tengah malam itu malaikat-malaikat turun

Tak terpikir mampir kamarmu untuk mengetuk

Bukan sujud syukur itu yang mereka inginkan

Jika benar ada upacara di kamar itu, tak terbayang wajahnya :

Ketika hidung dan dahinya menyentuh tanah:

Ada bau anyir darah Elang, Hafidhin, Hendriawan, Herry dan semua yang dulu dia kuburkan

Ada tulang reformasi yang baru dikuburkannya

Atau bau itu tak tercium laksana dongeng kancil yang pilek

Saat ini mereka yang di alam sana;

Jutaan rakyat yang dirampas haknya menanti sabar upacara besar :

Sujud syukur di atas kuburan

Ciganjur Warung Silah (tempat lahir reformasi),
28 September 2014

(Dwi Kristyowati – sisidunia.com)