Home » News » Formasi CPNS DKI 2014: Tersedia 133 Lowongan Tahun Ini

Formasi CPNS DKI 2014: Tersedia 133 Lowongan Tahun Ini



Jakarta – Menurut perhitungan kebutuhan pegawai di lingkungan Pemprov DKI tahun 2014 sebenarnya mencapai 3.000-5.000 PNS. Namun ketika penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) tahun 2014 akan disegera dilaksanakan ternyata Pemprov DKI Jakarta hanya mendapat jatah sebanyak 133 formasi. Sudah barang tentu jumlah tersebut sangat jauh dengan apa yang diharapkan.

Formasi CPNS DKI 2014: Tersedia 133 Lowongan Tahun Ini

Sebagaimana lansiran laman KABAR24 hari Jum’at, (15/08/2014) I Made Karmayoga, Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) DKI Jakarta di Balaikota mengatakan bahwa “Total sebanyak 133 formasi CPNS yang telah disetujui oleh Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi tahun 2014.”

Made juga menjelaskan, formasi CPNS yang telah ditetapkan pemerintah pusat untuk Pemprov DKI tahun ini masih sangat kurang dari kebutuhan pegawai di lingkungan Pemprov DKI Jakarta.

Selanjutnya menurut Made, Pemprov DKI telah mengusulkan penambahan yang diajukan kepada Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi sebanyak 1.000 formasi agar bisa ditemukan solusi untuk memenuhi kebutuhan pegawai di Pemprov DKI.

“Kalau yang disediakan hanya terbatas 133 PNS formasi, ini masih jauh dari jumlah pegawai yang dibutuhkan tahun ini. Sudah pasti, kesibukan, capek serta biaya yang dikeluarkan sama saja. Lagipula, kami tidak mungkin membatasi jumlah orang yang akan mendaftar dan mengikuti proses rekrutmen ini,” sambung Made.

“Semoga pemerintah pusat mau mengabulkan permohonan penambahan pegawai ini, meskipun akan ada syarat yang diwajibkan kepada Pemprov DKI,” begitu harapan Made.

Pasalnya, kebutuhan guru dan pegawai di sejumlah dinas vital saat ini masih sangat kurang. “Kami masih menanti jawaban tersebut. Nanti akan ada opsi, apakah formasi 133 CPNS dikerjakan sekarang atau digabung formasi tahun depan sekaligus karena azas efisien dan efektivitas. Semoga saja disetujui, sebab perbedaan jumlahnya itu terlalu besar, khususnya guru-guru SD banyak yang kurang,” tandasnya. (Nailah Azka – sisidunia.com).