Home » Gaya Hidup » Puisi Lebaran 2014 : Ucapan Idul Fitri Bernuansa Islami

Puisi Lebaran 2014 : Ucapan Idul Fitri Bernuansa Islami



Jakarta – Idul Fitri bukan hanya memberikan rasa kemenangan setelah 1 bulan lamanya kita berpuasa. Namun Idul Fitri juga memberikan kita kesempatan untuk menjalin dan memperkuat tali silahturahmi dengan keluarga dan sahabat kita tercinta.

Puisi Lebaran 2014 : Ucapan Idul Fitri Bernuansa Islami

Puisi Lebaran

Ada kalanya kita mungkin tidak bisa merayakan hari lebaran bersama karena terpisah oleh ruang dan waktu. Namun di hari yang Fitri ini, jalinan antar sesama harus dan wajib kita lakukan.

Salah satu yang bisa kita sampaikan saat momen Idul Fitri 1435 untuk saudara dan teman kita yang jauh disana adalah lewat sebuah puisi lebaran yang bernuansakan Islami. Puisi ini bisa mengembalikan semangat silahturahmi walaupun tidak bisa berkumpul bersama.

Berikut adalah beberapa kumpulan puisi lebaran yang telah dikumpulkan oleh sisidunia.com, Sabtu (26/7/2014) yang menggambarkan hari Idul Fitri yang akan kita sambut bersama tahun ini :

Idul Fitri Yang Hakiki

Saat hati bertabur dosa
Merajai seluruh akal dan jiwa
Menghujam sekujur badan
Merasuk di dermaga rasa
Yang tak bisa dibendung
Lewat apapun juga

Tetapi,
Ketika cahaya fitri datang
Kilauannya menyejukkan hati

Ia berkelebat dan membawa suara sahdu
Dengan lantunan azan berkumandang
Menggema di jagat raya dan alam semesta
Hingga memancar dikaki bukit cakrawala
Percikkan cahayanya makin memekar
Menembus hati nurani terdalam

Ia meluluh lantakkan seluruh dosa
Yang melekat dihati dan jiwa
Ia bersihkan dengan air suci
Dan siraman taubatan nasuha
Karena di hari yang fitri ia suci kembali
Karena idul fitri hakiki di hati

IDUL FITRI

Lihat
Pedang taubat ini menebas-nebas hati
dari masa lampau yang lalai dan sia-sia
Telah kulaksanakan puasa Ramadhanku
telah kutegakkan shalat malam
telah kuuntai wirid tiap malam dan siang
telah kuhamparkan sajadahku
yang tak hanya nuju Ka’bah
tapi ikhlas mencapai hati dan darah
Dan di malam Qadar aku pun menunggu
Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya

Maka aku girang-girangkan hatiku
Aku bilang :
Tardji, rindu yang kau wudhukkan setiap malam
Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang
namun si bandel Tardji ini sekali merindu
Takkan pernah melupa
Takkan kulupa janjiNya
Bagi yang merindu insya-Allah kan ada mustajab cinta

Maka walau tak jumpa denganNya
shalat dan zikir yang telah membasuh jiwaku ini
Semakin mendekatkan aku padaNya
Dan semakin dekat
Semakin terasa kesiasiaan pada usia lama yang lalai berlupa

O lihat Tuhan, kini si bekas pemabuk ini
ngebut
di jalan lurus
Jangan Kau depakkan lagi aku ke trotoir
tempat usia lalaiku menenggak arak di warung dunia
Kini biarkan aku menenggak arak cahayaMu
di ujung sisa usia

O usia lalai yang berkepanjangan
yang menyebabkan aku kini ngebut di jalan lurus
Tuhan jangan Kau depakkan lagi aku di trotoir
tempat dulu aku menenggak arak di warung dunia

Maka pagi ini
kukenakan zirah la ilaha illallah
aku pakai sepatu siratul mustaqiem
akupun lurus menuju lapangan tempat shalat ied
Aku bawa masjid dalam diriku
Kuhamparkan di lapangan
Kutegakkan shalat
dan kurayakan kelahiran kembali
di sana

Sutardji Calzoum Bachri, 1987

Mencari Makna Idul Fitri

Penghujung Ramadhan dinanti insan
Idul Fitri adalah Kemenangan katamu
Pantaskah kita menang?
Bila dalam dahaga, lisan menajam
Menusuk hati tiap insan
Mata menikmati sjuta pesona indahnya maya
Telinga asyik masyuk terlena musik dan kabar burung
Aneka sajian masuk perut tiap senja berpamitan

Di penghujung Ramadhan, jutaan rupiah terbakar kembang api
Jutaan rupiah belanja busana
Dimana nilai fitri itu?
Adakah dalam tiap ucap maaf?
Mungkinkah ada dalam tiap rupiah zakat?
Atau ada dalam kesederhanaan hidup?

Ramadhan berakhir, peka tak lagi hadir
Kesenjangan smakin tampak nyata
Ramadhan masih gagal menjagal nafsu kita
Kita kembali ke tabiat semula
Hanya rahmat Tuhan yang mampu membalut jiwa menjadi fitri
Dalam tekad kita yang nyata

(Samsul Arifin – sisidunia.com)