Home » News » Berharap Pasal 5 Di UU Pencucian Uang Dapat Terlaksana

Berharap Pasal 5 Di UU Pencucian Uang Dapat Terlaksana



Jakarta – Yenti Ganarsih salah satu pengawas kejahatan soal pencucian uang, beliau mengaharapkan kinerja KPK agar bisa sesuai dengan pasal 5 UU pencucian uang (UU No 8/2010) supaya siapa saja yang menikmati hasil dari korupsi harus diberantas hingga tuntas. Sebab dalam pasal ini juga terdapat pendidikan mengenai anti korupsi juga mengenai pencegahan uang agar tidak disebar oleh para koruptor.

Berharap Pasal 5 Di UU Pencucian Uang Dapat Terlaksana

Menurut pengamatan dari Yenti, selama ini kinerja KPK dianggap kurang maksimum. Sebab apa jika dilihat pihak-pihak KPK belum berani bekerja sesuai dengan pasal 5 UU pencucian uang. Seperti misal kasus yang Simulator SIM, yang pastinya istri-istri para koruptor itu juga terlibat, tapi mana tidak ada satupun para penikmat uang itu ikut diproses.

Saat Yenti Ganarsih berbincang-bincang dengan wartawan sisidunia, selasa (11/2/2014),di tempatnya bekerja, beliau mengatakan “mengapa para istri dari koruptor itu tidak diproses karena juga ikut menikmati hasilnya, banyak alasan yang menjawab karena dilihat dari segi kemanusiaan, nah tapi apakah itu termasuk kemanusiaan jika ikut menikmati hasil dari para suami yang koruptor?”

Ada kasus korupsi yang terjadi di negara Yunani, pada saat itu mantan Menteri Pertahanan Yunani terlibat kasus korupsi, dia pun divonis penjara selama 20 tahun. Disitu keluarga yyang terlibat, termasuk istri bahkan juga istri yang sudah dicerai, serta anak-anaknya ikut dalam penjara, dengan tuduhan menerima hasil dari uang korupsi.

Di dalam pasal 5 sudah terdapat beberapa nasihat, hati-hatilah orang terdekat yang menerima sesuatu bentuk apapun itu, jika dianggap keluar dari kewajaran. Hal ini juga bisa menjadikan pelajaran bagi warga Indonesia yang lain, apabila tiba-tiba ada seseorang memberi secara cuma-cuma itu patut dihindari, ataupun ditolak, selama dilihat tidak wajar.

Jika semua orang atau warga bisa bersikap hati-hati, besar kemungkinan perpuyaran hasil uang dari korupsi semakin sulit dilakukan. Sebab si pelaku korupsi, kesulitan untuk mengalirkan dana-dana yang sudah didaptnya, kata Yenti Ganarsih. (Rindi Ayunda – sisidunia.com)